RSS

Menyikapi Peringatan Malam Nisfu Sya’ban Dengan Objektif

10 Jul

Pada bulan Sya’ban atau tepatnya malam ke lima belas yang biasa dikenal dan populer dengan sebutan malam nisfu Sya’ban,banyak kita temukan di masyarakat berbagai amaliyah yang dilakukan dalam rangka menghidupkan malam ini,diantaranya membaca surat yasin tiga kali selepas maghrib,membentuk halaqoh membaca al-Qur’an di masjid,iktikaf,dzikir dan amal shaleh lainya.Yang mana aktifitas semacam ini sudah menjadi tradisi di masyarakat yang dilakukan pada malam nisfu Sya’ban setiap tahunnya,dan bukan hanya dilakukan oleh masyarakat di Indonesia saja tetapi juga ada di negara-negara lain.

Sebagian kaum Muslim menganggap bahwa kegiatan-kegiatan tersebut sebagai bid’ah yang harus di tinggalkan,sedangkan sebagian yang lain menganggapnya sebagai amal shaleh yang di anjurkan dalam Islam.
Kurang bijak jika kita mengklaim secara sepihak bahwa aktifitas di atas sebagai bid’ah atau kemungkaran yang harus dihindari,akan tetapi yang terbaik menurut hemat penulis dalam menyikapi aktifitas tersebut kita harus bersikap objektif dengan menanggalkan sikap fanatik kita pada paham tertentu kemudian melihat atau menelaah pendapat Ulama seputar amaliyah nisfu Sya’ban dalam perspektif Syari’at Islam.

Sebagian Muslim yang mengisi malam nisfu Sya’ban dengan berbagai amal shaleh, mereka menyandarkan kegiatan yang di lakukan pada malam ini pada beberapa hadist, diantaranya diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu :
 “Nabi Muhammad Shollallhu alaihi wasallam bersabda, “Allah melihat kepada semua makhluknya pada malam Nisfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban).
Ibnu Hibban mencantumkan hadist ini dalam kitab shahihnya,di tempat lain Syeh Muhammad Zaki Ibrahim dalam kitabnya Lailatunnisfi min sya’ban fii mizanil insofil ‘ilmi wa samahaatil islam mengatakan : Andaikan tidak ada hadist lain kecuali hadist shahih ini yang menjelaskan tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban,maka sudah cukup untuk memperhatikannya dan cukup sebagai dalil bahwa malam ini berbeda dengan malam-malam lainya.

Diriwayatkan  juga dari Aisyah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wasallam bersabda:“Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi rahmat pada mereka yang memintanya dan mengakhirkan orang-orang yang dengki dalam keadaan mereka ” (HR. Baihaqi) .Baihaqi mengatakan bahwa hadist ini mursal jayyid.
Al-Imam As-Syafi’i radhiyallahu anhu mengatakan sampai pada kami satu riwayat yang menyebutkan bahwa do’a di kabulkan di lima malam:malam jum’at,malam idul adha dan fitri,malam awal rajab dan malam nisfu sya’ban.

Syeh Muhammad Zaki Ibrahim menambahkan bahwa banyak hadist-hadist lain yang senada dengan hadist hadist di atas yang menjelaskan anjuran untuk menghidupkan malam ini.Dalam kitab Tuhfatul ahwadi Alhafid Muhammad bin Abdurrahman al-Mubarokfuri setelah menyebutkan hadist-hadist seputar nisfu Sya’ban beliau berkata: kumpulan hadist-hadist ini cukup sebagai hujjah atas orang yang menduga bahwa malam nisfu Sya’ban tidak memiliki keutamaan.

Di lain pihak ada sebagian orang yang menganggap bahwa hadist-hadist diatas sebagai hadist lemah yang tidak bisa dijadikan dasar,sehingga mereka menilai bahwa kegiatan menghidupkan malam nisfu Sya’ban sebagai hal yang tidak boleh dilakukan,tetapi diatas kita ketahui bahwa Ibnu Hibban menilai hadist yang pertama sebagai hadist shohih dan al-Baihaqi juga menghukumi kuat pada hadist yang kedua,kalaupun hadist di atas dianggap lemah, mayoritas ulama (jika tidak boleh di katakan seluruh ulama) menyakatan boleh mengamalkan hadist lemah (dengan beberapa syarat) dalam wilayah fadhoilulla’mal (keutamaan amal) tidak pada wilayah akidah dan hukum.Sayyid Muhammad bin Alawi Al-maliki dalam kitab Mazda fii sya’ban mengatakan bahwa hadist-hadist yang menjelaskan keutamaan malam nisfu sya’ban dan keutamaan menghidupkan malam ini termasuk hadist dho’if yang memenuhi syarat dan boleh untuk di amalkan.

Disini kita dapat menarik kesimpulan bahwa masalah ini adalah masalah khilafiyah furu’iyah yang tidak perlu diperdebatkan,karena setiap pihak memiliki dalil sebagai pijakan amaliyahnya masing-masing,dan setiap muslim harus saling menghormati pendapat muslim lain,dan tidak layak mengatakan fasik atau ahli bid’ah pada sesama muslim yang mengerjakan amaliyah yang dia yakini sebagai anjuran dalam agamanya selama dia bersandar pada dalil syar’i yang benar.

Umat Islam saat ini sangat membutuhkan untuk bisa melewati perdebatan dan perselisihan yang lahir dari perbedaan pandangan pada masalah-masalah khilafiyah furuiyah klasik,seperti masalah ini.Banyak masalah yang jauh lebih penting yang sekarang di hadapi umat ,paham liberal dan sekuler yang sekarang mulai mencemari lembaga-lembaga pendidikan Islam dan meracuni akidah yang shahih ,kebodohan dan ketidakpedulian umat pada agamanya,inilah diantara masalah yang harus dihadapi dan di pecahkan bersama.

Perbedaan dalam masalah ijtihadiyah tidak layak menjadikan umat Islam larut dalam perselisihan dan mejadi penghalang untuk saling bekerja sama dan saling membantu  melawan setiap hal yang merorong Islam.Semoga kita selalu mendapatkan curahan hidayah dan taufiq dari Allah ta’ala.

La haula wa laa quwata illaa billahil ‘aliyil adhim,wa shollallahu ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa aalihi wa sahbihi wasallam.   

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 10, 2011 in Fiqih

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: