RSS

Fiqih Puasa (bag.1)

30 Jul

Bulan Ramadhan adalah salah satu sarana bagi setiap muslim untuk mengasah dan mengasuh jiwanya,disamping itu bulan Ramadhan juga merupakan ladang amal yang subur bagi umat Islam.Diantara usaha yang perlu dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh keutamaan bulan suci ini ialah dengan mengetahui dan mengenal puasa,apa yang harus ia lakukan dan juga apa-apa yang harus di hindari karena bisa yang bisa merusak puasanya.Artikel ini akan membahas secara singkat pengetahuan seputar puasa yang disarikan dari beberapa sumber autentik.yang Insya Allah cukup sebagai bekal pengetahuan bagi muslim untuk menjalani ibadah puasa.
PENGERTIAN PUASA
Puasa Ramadhan di wajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah,kewajiban ini di jelaskan dalam surat Al-Baqoroh ayat:183
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Puasa atau dalam bahasa Arab disebut dengan shaum atau shiyam dari segi bahasa maknanya menahan atau berhenti(tidak beraktivitas).Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas apapun aktivitas itu ia disebut shaim(berpuasa).Sedangkan pengertian puasa  dalam hukum syari’at adalah “menahan dari segala hal yang membatalkan puasa dari mulai terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari disertai dengan niat”.
SYARAT-SYARAT WAJIB PUASA
Seseorang wajib menjalani puasa Ramadhan jika dalam dirinya terkumpul hal-hal berikut ini:
1.Islam
Puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak sah puasanya karena ia bukan ahli ibadah.
2.Mukallaf
Yang dimaksud dengan mukallaf adalah muslim yang telah mencapai usia baligh dan berakal sehat.
3.Tidak mempunyai udzur yang menghalangi melakukan puasa atau udzur yang membolehkan untuk meninggalkan puasa.
Udzur yang menghalangi melakukan puasa:
a.Haid atau nifas.
b.Pingsan atau gila seharian penuh.
Udzur yang membolehkan meninggalkan puasa :
a.Sakit,bagi penderita yang mendapat kesulitan atau keterlambatan penyembuhan jika berpuasa ia boleh tidak berpuasa.
b.Berpergian,bagi musafir dibolehkan berbuka dengan ketentuan sebagai berikut:
1.Perjalanan yang di tempuh tidak kurang dari 90 km.
2.Perjalanan yang di diperbolehkan bukan perjalanan yang bertujuan maksiat.
3.Perjalanan dimulai sebelum terbit fajar,jika seseorang bepergian setelah fajar maka ia tidak memperoleh izin untuk berbuka.
Dalil yang menjelaskan bahwa sakit dan safar merupakan udzur yang membolehkan berbuka adalah surat al-Baqoroh ayat 185:  dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…
c.Lemah tidak mampu berpuasa,baik dikarenakan lanjut usia atau menderita penyakit yang berkepanjangan.
SYARAT SAH PUASA
Puasa dihukumi sah apabila memenuhi syarat-syarat berikut:
1.Islam,tidak sah puasanya orang kafir
2.Berakal atau tamyiz,maka tidak sah puasa orang gila atau anak kecil yang belum tamyiz,sedangkan anak yang sudah tamyiz puasanya sah.Usia tamziz adalah usia dimana seorang anak bisa mengetahui sesuatu yang bermanfaat dan yang membahayakannya.
3.Suci dari haidh dan nifas.
4.Berpuasa pada waktu yang diperbolehkan,maka tidak sah berpuasa pada waktu yang diharamkan berpuasa seperti hari idul fitri,idul adha dan hari tasrik.
RUKUN PUASA
Puasa terlaksana dengan melakukan dua rukun dibawah ini :
1.Niat puasa.
2.Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari mulai terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.
Rukun pertama yaitu niat puasa cara pelaksanaanya adalah dalam hati,maka tidak cukup hanya dengan mengucapkan secara lisan, akan tetapi mengucapkan niat hukumnya sunnah.Untuk niat puasa Ramadhan disyaratkan hal-hal dibawah ini :
a.Berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar,jika tidak menghendaki atau berniat mengerjakan puasa sampai terbit fajar maka niatnya batal dan batal pula puasanya.sebagaimana dijelaskan dalam hadist riwayat Ad-Daruqutni: Siapa yang tidak melakukan niat pada sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.
b.Menentukan dalam hati bahwa besok akan berpuasa Ramadhan.Niat puasa Ramadhan yang paling lengkap adalah: saya berniat besok hari mengerjakan puasa fardhu ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala
c.Selalu melakukan niat puasa setiap malamnya.
Sedangkan niat puasa sunah boleh dilakukan sebelum waktu dhuhur dengan catatan orang tersebut belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Rukun yang kedua adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa,yang membatalkan puasa antara lain
1.Makan dan minun dengan sengaja.
2.Masuknya sesuatu benda yang bisa terlihat oleh mata ke bagian dalam tubuh melalui rongga terbuka,rongga yang terbuka yaitu mulut,hidung,telinga,qubul dan dubur baik laki-laki maupun perempuan.
Sesuatu yang masuk kedalam telinga membatalkan puasa karena telinga termasuk rongga tubuh yang terbuka.Tetesan air yang dimasukan ke dalam mata tidak membatalkan puasa karena mata bukan rongga tubuh yang terbuka,Obat yang dimasukan ke dalam dubur membatalkan puasa karena dubur termasuk rongga tubuh yang terbuka.Suntikan ke dalam urat tidak membatalkan karena urat tidak termasuk rongga tubuh yang terbuka.Masuknya benda ke bagian dalam tubuh melalui rongga yang terbuka ini membatalkan puasa jika dilakukan secara sengaja.
3.Muntah dengan disengaja
4.Berhubungan seks meski tidak sampai keluar sperma,akan tetapi jika berhubungan seks dalam keadaan lupa sedang berpuasa maka puasanya tidak batal.
5.Mengeluarkan mani dengan cara menyentuh atau mencium istri atau mengeluarkannya dengan tangan,apabila mani keluar sendiri tanpa ada upaya untuk mengeluarkannya maka tidak membatalkan puasa.
6.haidh dan nifas
7.Gila
8.Murtad

Apabila orang yang berpuasa lupa melakukan hal-hal yang membatalkan semisal ia makan atau minum lupa bahwa dirinya sedang berpuasa,maka puasanya tidak batal baik ia makan atau minum dalam jumlah sedikit atau banyak,sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis riwayat al-Bukhori dan Muslim: “Apabila seseorang lupa makan dan minum maka sempurnakanlah puasanya,karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum”.
Begitu juga tidak batal puasa seseorang yang dipaksa untuk melakukan hal-hal yang membatalkan.
Sedangkan orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena ia tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan bisa membatalkan puasanya,orang yang demikian terbagi menjadi dua kelompok:
1.Orang yang baru masuk Islam atau hidup jauh dari masyarakat muslim,atau mungkin hidup terpencil sehingga dia tidak mengetahui apa yang saja yang bisa membatalkan puasanya,maka orang yang demikian tidak batal puasanya.Karena Islam memaafkan kebodohan semacam ini.
2.Orang yang telah lama memeluk Islam,atau ia hidup di tengah masyarakat muslim yang mungkin baginya untuk mengetahui apa saja yang membatalkan puasa,kebodohan orang semacam ini tidak di tolelir dalam Islam,karena ketidak tahuanya timbul dari kelalaian,dan apabila ia mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak mengetahui jika sesuatu tersebut membatalkan, maka puasanya di hukumi batal.(Bersambung).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 30, 2011 in Fiqih

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: