RSS

Fiqih Puasa (bag.2)

01 Agu

Pada fiqih puasa bagian kedua ini,penulis akan membahas seputar hal yang dimakruhkan dan disunahkan dalam puasa juga masalah qadha’ dan kaffarat puasa Ramadhan.

HAL-HAL YANG DIMAKHRUHKAN DALAM PUASA:
1.Berbekam.
2.Berciuman bibir atau di selain bibir jika menimbulkan syahwat,menurut sebagian besar ulama As-Syafi’iyah hukumnya makhruh tahrim(dosa jika dilakukan).Jika tidak menimbulkan syahwat yang afdhol tidak dilakukan.Merangkul dan hal-hal lain yang bisa menimbukan syahwat hukumnya sama dengan berciuman.
3.Bersiwak atau menggosok gigi setelah tergelicirnya matahari.
4.Mencicipi makanan atau mengunyah,dengan catatan tidak sampai ada yang masuk ke bagian dalam tubuh.
5.Kata-kata kotor dan hina,seperti memaki,ghibah,bohong.Hal ini pada dasarnya haram akan tetapi bagi orang yang berpuasa lebih ditekankan lagi untuk menjauhi kata-kata kotor dan hina di samping karena haram juga bisa menggugurkan pahala puasa.
SUNAH-SUNAH PUASA.
Hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan oleh orang yang berpuasa diantaranya:
1.Sahur,sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist riwayat al-bukhori:“Bersahurlah sesungguhnya didalam sahur ada barokah”.Waktu sahur dari mulai tengah malam sampai terbit fajar.
2.Mengakhirkan santap sahur dan menyegerakan berbuka.
3.Berbuka dengan kurma,jika tidak mempunyai kurma disunahkan berbuka dengan air.
4.Mandi junub sebelum fajar.
5.Berdoa waktu buka puasa.
Doa buka puasa :
اللهُمَّ لََكَ صُمتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتلَتْ الْعَرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.
Artinya: Ya Allah karena kamu aku berpuasa,dan atas rizkimu aku berbuka,telah hilang rasa haus,dan telah basah urat-urat,dan telah ditetapkannya pahala jika Allah menghendaki.
6.Memberi makanan untuk berbuka bagi orang-orang yang berpuasa.        Disunahkan bagi muslim untuk memberi makanan bagi orang yang berbuka puasa meski itu hanya satu biji kurma atau satu teguk air,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Siapa yang memberi makanan untuk berbuka orang yang berpuasa maka ia memperoleh pahala yang sama dengan orang puasa itu,dan tidaklah berkurang pahala orang yang berpuasa tersebut”.
7.Memperbanyak shodaqoh,membaca al-Qur’an dan iktikaf di masjid.
QADHA’ PUASA RAMADHAN.
1.Musafir dan Orang sakit.
Bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadhan dikarenakan bepergian atau sakit wajib mengqadha'(mengganti) puasa yang ia tinggalkan sebelum masuk Ramadhan tahun berikutnya.Jika ia mengakhirkan qadha’ puasanya tanpa ada udzur sampai masuk ramadhan berikutnya maka disamping wajib menqadha’ puasa yang ia tinggalkan,ia harus membayar fidyah,yang di maksud dengan fidyah adalah memberi makan orang miskin satu mud(600 gram) dari makanan pokok daerah ia tinggal untuk setiap satu hari puasa yang ia akhirkan tanpa udzur.
2.Orang tua dan orang sakit yang tidak mampu berpuasa dan diduga tidak akan sembuh dari penyakitnya.

Orang yang berusia lanjut dan seseorang yang menderita penyakit yang diduga tidak akan sembuh dari penyakitnya jika mereka tidak mampu untuk berpuasa maka tidak wajib mengqadha’ puasa, hanya saja mereka harus mengeluarkan fidyah untuk setiap satu hari yang mereka tinggalkan.
3.Wanita hamil dan menyusui.
Wanita yang hamil  dan  menyusui  wajib  membayar  fidyah  dan mengganti puasanya  di  hari  lain,  seandainya  yang  mereka khawatirkan adalah janin atau anaknya  yang  sedang  menyusu.Tetapi  bila  yang mereka khawatirkan diri mereka, maka mereka berbuka dan hanya wajib menggantinya di hari lain, tanpa harus membayar fidyah.
KAFFARAT PUASA.
Kaffarat  adalah  memerdekakan budak muslim Jika tidak mampu,maka ia harus berpuasa  dua  bulan berturut-turut. Jika tidak mampu juga, maka ia harus memberi makan enam puluh orang miskin.Setiap satu orang miskin satu mud (600 gram) makanan pokok daerah ia tinggal.Jika tidak mampu tiga hal ini maka kewajiban kaffarat masih tetap dalam tanggungannya sampai ia mampu untuk melakukan salah satunya.
Sebab Wajibnya Kaffarat.
Yang mewajibkan kaffarat adalah membatalkan puasa satu hari bulan Ramadhan dengan berhubungan seks dengan syarat sebagai berikut :
1.Melakukan dengan di sengaja dan ingat dalam keadaan puasa.
2.Mengetahui haramnya hubungan seks waktu berpuasa.
3.Bukan termasuk orang yang di bolehkan berbuka,seperti musafir.
Bagi yang melakukan hubungan seks lupa bahwa dirinya sedang dalam keadaan puasa,atau tidak tahu bahwa hubungan seks membatalkan puasanya dan ia termasuk orang yang ketidaktahuanya di maafkan (sebagaimana di jelaskan dalam bag.1) atau seorang musafir yang di bolehkan berbuka maka tidak wajib kaffarat.
Yang Wajib Menanggung Kaffarat.
Yang menanggung kaffarat adalah suami,sedangkan istri tidak terbebani kewajiban ini, meskipun ia waktu melakukan hubungan seks dalam keadaan puasa.
Dan yang perlu diketahui juga bahwa seorang yang wajib kaffarat ia juga wajib mengqadha puasanya yang batal sebab hubungan seks.(bersambung).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 1, 2011 in Fiqih

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: