RSS

“Kuingatkan Kalian Kepada Allah Mengenai Ahlu Baitku”

28 Mar

“Kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahlu Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku”.

Begitulah isi penggalan dari hadist yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim,Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada umatnya untuk memberikan perhatian pada ahlu baitnya.Siapakah yang yang dimaksud dengan Ahlu Bait an-Nabi ? Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat, Mayoritas Ulama berpendapat  bahwa Ahlu bait Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri-istri beliau,Bani Hasyim dan Bani al-Mutholib,dan sebagian Ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Ahlu bait an-Nabawi adalah Sayyidina Ali bin Abi Tholib,Sayyidatinaa Fathimah,Sayyidinaa al-Hasan,Sayyidina al-Husain dan keturunan dari keduannya sampai hari kiamat.

Banyak dari umat Islam saat ini yang tidak mengetahui siapa ahlu bait an-Nabawi dan hak-haknya atau mengetahui tapi menganggapnya sebagai hal yang remeh dan tidak penting untuk diperhatikan.Padahal masalah ahlu bait an-Nabawi merupakan perkara penting dalam Islam,dan bagi seorang muslim yang menghendaki kehidupan akhirat yang kekal tidak layak jika tidak mengetahuinya.Pentingnya masalah ahlu bait an-Nabawi ini bisa kita ketahui dari hadist Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam diatas dimana beliau berwasiat tentang  ahlu bait dan beliau mengulangi wasiat sampai tiga kali, hal ini menunjukan pentingnya hal tersebut.

Dibawah ini adalah sebagian hal yang mesti diketahui seorang muslim tentang ahlu bait yang antara lain :

1 – Seseorang harus meyakini adanya ahlu bait dan meyakini bahwa mereka ada sampai hari kiamat.

2 – Meyakini bahwa keberadaan ahlu bait merupakan jaminan terjaganya umat dari kesesatan.

Dua hal diatas di jelaskan dalam hadis riwayat al-Imam at-Tirmidzi ; “Aku meninggalkan pada kalian jika berpegang-teguh padanya,kalian tidak akan tersesat setelah aku (wafat ).Salah satunya lebih agung dari yang lainnya,kitab Allah yaitu tali panjang dari langit sampai bumi dan keturunanku,ahli baitku,keduanya tidak akan terpisah sampai kembali padaku di telaga (kautsar),maka perhatikanlah  bagaimana hubungan kalian dengan keduannya sepeninggalanku”.

3 – Ahlu bait Rasulullah merupakan salah satu dari dua hal yang diwasiatkan oleh Beliau pada umatnya.Beliau menyebut dua peningalan beliau dalam hadist riwayat al-Imam Muslim sebagai “tsaqolain”(dua hal yang berat ),sementara Ulama berpendapat keduanya dinamakan “tsaqalain” yang pertama al-Qur’an karena berat mengamalkan isinya,dan yang kedua yaitu Ahlu bait karena berat memenuhi hak-hak mereka.

4 – Wajib mencintai dan menghormati ahlu bait dan tidak menyakiti mereka.Hal ini di jelaskan dalam al-Qur’an surat as-Syuura ayat 23 : Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.  Al-Imam as-Suyuthi dalam kitabnya Ihyaul mayyit bi fadhoili aalil bait menjelaskan bahwa yang dimaksud kasih sayang dalam kekeluargaan  adalah kerabat Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam.Sedangkan hadist yang menjelaskan tentang perintah Rasulullah untuk mencintai Ahlu bait sangat banyak diantaranya hadist riwayat Ibnu Majah dari Sayyidinaa Abas radhiyallahu ‘anhu :

“Bagaimanakah keadaan kaum ? jika duduk diantara mereka salah satu ahli baitku mereka memutuskan pembicaraan mereka. Demi zat dimana jiwaku ada dalam kekuasaannya tidak akan masuk kedalam hati seseorang iman sehingga ia mencintai ahli baitku karena Allah dan karena kerabatku”.

Seorang muslim sudah semestinya menghormati dan tidak menyakiti ahlu bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta memaafkan kesalahan mereka sebagai bentuk penghormatan dan cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Dan bagi yang ahlu bait hendaknya  tidak tertipu oleh mulia nasab mereka akan tetapi harus bersyukur kepada Allah ta’ala atas nikmat yang besar dengan lahir ke dunia ini menjadi keturunan manusia yang paling mulia dan agung,dan setiap Ahlu bait mesti menjaga kemuliaan nasab mereka dengan berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari hal-hal yang hina dan perbuatan-perbuatan yang bisa menodai kemuliaan nasab mereka.Serta menjauhkan diri dari akidah – akidah yang menyimpang dari akidah leluhur mereka seperti rafidhoh dan mujasimah.

Semoga Allah ta’ala senantiasa memberi petunjuk kepada kita semua amin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 28, 2012 in Tsaqofah

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: