RSS

Al-Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari Pembela Ahlu Sunnah Bukan Pendiri Madzhab

08 Apr

Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H dan beliau wafat di Baghdad pada tahun 330 H,menurut pendapat yang lain beliau wafat pada tahun 324 H.Al-Imam Abu al-Hasan merupakan pakar teologi yang populer dan salah satu Imam faham Ahlu sunnah wa jama’ah.Saat ini sebagian pengikut faham ahlu sunnah wal jama’ah juga dikenal dengan nama al-Asya’irah.

Beliau lahir di zaman dimana sekte-sekte teologi banyak bermunculan, yang antar sekte yang satu dengan yang lain saling mengkafirkan.Diantara sekte yang ada pada saat itu adalah Mu’tazilah.Dalam sejarah Islam Mu’tazilah tercatat sebagai sekte terbesar dan terkuat pada waktu itu dan yang paling gencar mempropagandakan pemikiran mereka dengan mengajak diskusi dan berdebat dengan Ulama-Ulama dari ahli hadist dan ahli fiqih.

Al-Imam Abu al-Hasan Dalam periode pertama dalam kehidupannya adalah seorang penganut madzhab Mu’tazilah,mempelajari pemikiran-pemikiran Mu’tazilah dan metode-metode mereka dalam berdebat dan berdiskusi disamping itu juga beliau mempelajari filsafat sebagaimana orang-orang Mu’tazilah pada umumnya.Periode ini berlangsung  selama empat puluh tahun.Kemudian beliau melepaskan diri dari faham Mu’tazilah,mengumumkan taubatnya dan kembali ke faham yang dianut oleh mayoritas umat Islam pada waktu itu,yaitu faham para ahli hadist dan ahli fiqh sebagaimana dijelaskan Al-Hafizh Ibnu Asakir di dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari fima Nusiba ila Abil Hasan al-Asy’ari mengukip ucapan Ismail bin Abi Muhammad bin Ishaq al-Asy’ari :

‘‘Al-Asy’ari yaitu Syaikh dan Imam kita pada awalnya mengikuti pemikiran Mu’tazilah selama 40 tahun dan beliau adalah imam mereka. Suatu saat beliau menyepi dari manusia selama 15 hari di rumahnya, sesudah itu beliau pergi ke masjid Jami’ naik ke mimbar seraya mengatakan:

Wahai manusia, sesungguhnya aku menghilang dari kalian pada hari-hari yang lalu karena aku melihat suatu permasalahan yang dalil-dalilnya sama – sama kuat sehingga tidak bisa aku tentukan mana yang haq dan mana yang batil, maka aku memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah memberikan petunjuk kepadaku yang aku tuliskan dalam kitab- kitabku ini, aku telah melepaskan diriku dari semua yang sebelumnya aku yakini, sebagaimana aku lepaskan bajuku ini.

Beliau pun melepas baju yang beliau pakai dan melemparkannya,dan menyerahkan  kitab-kitab tersebut kepada orang-orang.Antara lain kitab al-Luma’ dan kitab yang menjelaskan tentang cela dan kesalahan faham Mu’tazilah yang berjudul kasyful asrar wa hatkil astar dan kitab-kitab lainnya. Ketika ahlul hadits dan fiqh membaca kitab-kitab tersebut me¬reka mengambil apa yang ada di dalamnya dan mereka mengakui kedudukan yang tinggi dari Abul Hasan al-Asy’ari dan menjadikannya sebagai imam sehingga kemudian faham mereka (ahlu hadist dan ahlu fiqh ) dinisbatkan ke Imam Abu al-Hasan.”

Sebagian orang menduga bahwa al-Imam al-Asy’ari mendirikan madzhab dan membangun faham dalam masalah akidah yang berbeda dengan Mu’tazilah kemudian menyusun kitab dan mempromosikannya pada orang-orang untuk mengikuti pemikirannya,sehingga para pengikut faham beliau dikenal dengan sebutan Asy’ariyiin.

Dugaan ini merupakan kesalahan yang fatal,Al-Imam Abu al-Hasan tidak mendirikan atau menciptakan pemikiran baru dalam masalah akidah akan tetapi beliau menanggalkan keyakinan sebelumnya (faham Mu’tazilah),dan kembali ke faham yang diyakini Ulama hadist dan fiqh,yaitu faham yang mereka warisi dari generasi Tabi’in dan para Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,faham yang berdasar pada al-Qur’an dan Hadist.

Faham Ahlu Sunnah wal jama’ah yang juga merupakan faham yang diyakini para Ulama ahli hadist dan ahli fiqh pada saat itu sebenarnya merupakan faham mayoritas umat Islam akan tetapi munculnya madzhab-madzhab baru yang mengusung pemikiran – pemikiran baru dalam masalah akidah dan perdebatan,perpecahan serta permusuhan diantara mereka menyebabkan faham mayoritas umat Islam terlupakan,karena perhatian orang- orang tertuju dan tersita pada gelombang perdebatan antar sekte pada saat itu.Faham Ahlu sunnah wal jama’ah pada saat itu ibarat jalan lurus yang tertutupi lumpur dan kerikil – kerikil.Al-Imam Abu al-Hasan tidak lebih hanya membersihkan jalan lurus itu dan menunjukan pada umat Islam untuk menempuh jalan tersebut yaitu jalan yang ditempuh umat Islam sejak masa an-Nubuwah. Berikut penulis mengutip dari beberapa Ulama yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Al-Hafidz Ibnu Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari fima Nusiba ila Abil Hasan al-Asy’ari halaman 112-113 mengukip ucapan as-Syaikh Abu al-Qosim al-Qusairi :
“Para ahli hadist sepakat bahwa Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari adalah imam dari ahli hadist,madzhabnya madzhad ahli hadist,beliau membahas tentang usuludiin dengan mengikuti faham ahlu sunnah wal jama’ah,dan menolak faham yang menyimpang dari para ahli bid’ah”

Tajuddin as-Subki  dalam Thobaqot as-Syafi’iyah menulis : “Ketahuilah sesungguhnya Abu al-Hasan tidak menciptakan pendapat baru,dan tidak pula mendirikan madzhab, akan tetapi ia menjelaskan madzhab salaf,dan pembela faham para Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu Khalikan mengatakan di kitabnya wafayatul a’yan : Beliau adalah shohibul usul yang membela madzhab ahlu sunnah.

Ibnu al-Imad dalam Syadzarotudz dzahab menulis :”Allah telah memutihkan melalui Abu al-Hasan wajah Ahli sunnah an-Nabawiyah…”

Sedangkan penisbatan madzhab ahlu sunnah kepada Imam Abu al-Hasan disebabkan karena beliau satu-satunya Ulama yang paling gigih dalam membela faham ini dengan menjelaskan dalil – dalil faham ahlu sunnah dan menjawab hujjah-hujjah sekte-sekte yang menyimpang dari kebenaran, nama al-Imam Abu al-Hasan pun menjadi terkenal di kalangan umat Islam, setelah itu datang berbagai pertanyaan masalah akidah dari berbagai daerah dan dijawab oleh beliau.Sehingga faham ahlu sunnah wal jama’ah dikenal dengan Asya’iroh.

Dalam Thobaqot as-Syafi’iyah karangan Tajuddin as-Subki,al-Imam al-Iz bin Abdussalam berkata : “Pengikut madzahibu al-arba’ah mereka berfaham akidah ini,diantaranya semua pengikut madzab Malik,mayoritas pengikut madzhab as-Syafi’i,sebagian besar pengikut madzhab Hanafi dan banyak dari pengikut madzhab Hambali,dan dari para pengikut empat madzhab yang tidak mengikuti al-Imam as-As’ari mereka adalah pengikut Abu manshur al-maturiidi….”.Perbedaan dua Imam ahlu sunah ini hanya pada masalah juz’iyah al-ijtihadiyah dan sebagian besar perbedaan dari keduanya hanya bersifat lafdhi saja.

Saat ini ada sebagian orang mengklaim bahwa al-Imam Abu al-Hasan dalam kehidupan beliau melewati tiga periode yang pertama berfaham mu’tazilah kemudian periode yang kedua beliau beralih ke faham diantara mu’tazilah dan sunnah dan yang ketiga beliau kembali ke faham mujassimah (yang mereka duga sebagai faham salaf).

Dugaan ini menurut penulis merupakan bentuk rekayasa dan pemalsuan dari sejarah umat Islam,karena al-Imam Abu al-Hasan merupakan Ulama umat yang menjadi rujukan di zamannya.Segala bentuk pemalsuan tentang sejarah kehidupan beliau sama halnya merubah dan memalsukan sejarah umat.
Kesalahan dari dugaan mereka dapat kita ketahui dari beberapa hal berikut ini :

Andaikan al-Imam Abu al-Hasan ini berpindah ke faham mujassimah tentunya beliau akan mengikrarkan hal itu sebagaimana beliau lakukan ketika keluar dari faham Mu’tazilah dan pasti beliau akan mengigatkan hal ini kepada pengikut dan murid – muridnya hal ini juga pasti akan diketahui banyak orang karena beliau adalah Ulama besar  dan rujukan umat pada saat itu.Tetapi tidak ada seorang pun dari murid beliau dan Ulama yang satu zaman dengan beliau yang menjelaskan tentang hal ini (al-Imam Abu al-Hasan berpindah ke faham Mujassimah ) padahal mereka adalah orang – orang terdekat al-Imam Abu al-Hasan.Periode ketiga ini juga tidak disebutkan dalam kitab –kitab klasik yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hasan.

Adanya sanggahan dari kalangan Mujasimah pada al-Imam Abu al-Hasan. Abu Nasr as-Sajazi (w.444 H ) adalah diantara orang – orang Mujasimah yang menulis sanggahanya tentang faham al-Imam Abu al-Hasan. Andaikan tuduhan bahwa al-Imam Abu al-Hasan berpindah ke Mujasimah benar tentunya tidak ada orang – orang Mujasimah yang menyanggah faham beliau.

Kitab al-Ibanah dan Risalah Ilaa ahlits tsaghri wal maqolat dua kitab karya al-Imam Abu al-Hasan menegaskan bahwa al-Imam Abu al-Hasan tetap pada faham beliau yaitu faham ahlu sunnah wal jama’ah tidak ada sedikitpun dalam kedua kitab ini yang mengisyaratkan bahwa beliau berfaham Mujasimah sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian orang.

Dr.Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam kitab beliau berjudul al-Mazhahibu at-tauhidiyah wa al-falsafatu al-Mu’shirah mengkutip redaksi kitab al-Ibanah yang menjelaskan akidah al-Imam Abu Hasan,dan dalam redaksi tersebut tidak ada satu kalimat pun yang menjelaskan bahwa al-Imam Abu al-Hasan berfaham Mujasimah akan tetapi beliau tetap pada akidah Ahlu sunnah wal jama’ah.

Semoga Allah ta’ala senantiasa memberika taufiq dan hidayahNya pada kita…Amin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2012 in Tsaqofah

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: